Sunday, 29 January 2012

PENGOBATAN CARA NABI


بسم الله الرحمن الرحيم
واذامرضت فهو يشفين
“Dan jika aku sakit, maka Dia yang menyembuhkan” (Asy-Syu’araa : 80)
Allah ‘Azza wa Jalla merasa perlu untuk merekap ungkapan kekasih-Nya –Ibrahim AS—ke dalam Kalam-Nya yang penuh hikmah seperti di atas. Dia ingin ajarkan suatu pernyataan dari lubuk hati seorang ‘abid-Nya yang paling dalam. Seorang yang –demi menegakkan kalimah Tauhid—telah menentang ayahnya tercinta, membekali istri dan anaknya dengan do’a mustajab di tanah Haram, siap untuk menyembelih anaknya sekalipun, dan bahkan tak bergeming ketika memasuki bara api namrud dang Thaghut..
Sehat itu makhluk, sakit itu makhluk, kuman itu makhluk, obat itu makhluk, dokter itu makhluk, dan organ-organ tubuh saya pun adalah makhluk, segalanya disandarkan kepada Sang Pencipta.
Jika iman sudah menghujam semacam ini, baik bagi pasien ataupun dokter, maka tak ada lagi dikotomi. Tak ada lagi benteng tinggi: ini urusan dunia dan itu urusan akhirat. Pandangan kaum sekularis yang dapat membawa kepada “split personality” ini, sudah harus dicampakkah jauh-jauh. Islam tidak hanya di Masjid. Qur’an tidak hanya di atas sajadah. Sunnah al-Muthahharah tidak hanya di pesantren.
Islam laik merambah ke pelosok-pelosok bumi. Al-Qur’an al-Mubarak dan sunnah al-Muthahharah pantas masuk ke relung-relung hidup kita yang paling dalam, yng paling perifer.
Nabi kita nan Bijak tak hanya mengajarkan shalat dan shaum, tetapi juga berekonomi, berpolitik, berbudaya, termasuk di dalamnya berbudaya sehat : jasmani, rohani, dan sosial. Allah Ta’ala dari ‘Arasy-Nya yang Agung telah lansung mengajarkannya kepada Mushthafa Sang Rasul.
Akibatnya adalah suatu kejanggalan, jika ada sementara orang yang berasumsi bahwa ilmu adalah bebas nilai. Urusan medis adalah rusan dunia. Tuhan telah di kunci di Masjid. Subhanallah.
Untuk menangkal kejahilan tersebut, Dia berkehendakuntuk menggerakkan hamba-hamba-Nya yang cerdas dan tulus, yang menumbuhkembangkan kembali khazanah Islam yang lama terpendam: Islamisasi Ilmu.
Arus jihad Islam ini sedemikian derasnya, sehingga dapat dikatakan bahwa tak seorang pun yang mampu membendungnya.
Itulah suatu gunungan harta karun yang melimpah, yang tak aka nada habisnya. Warisan juru selamat dunia dan akhirat itu kini dihidangkan kepada anda.
Seomoga kita dapat memetik hikmah di dalamnya. Amin

Dikutip dari buku yang di tulis oleh Dr. Endy Muhammad Astiwara
Dokter oada RS. Al-Islam Bandung


Related Posts:

  • Tokoh-Tokoh Astronomi Tokoh-Tokoh Penting dalam Astronomi Anaximander (610-546 sM) - Seorang ilmuwan Yunani yang sering disebut sebagai "Bapak Ilmu Astronomi". Ia menganggap bentuk Bumi sebagai silinder dan angkasa berputar tiap hari mengeliling… Read More
  • MENGENAL TATA KOORDINAT BUMI Sebelum kita berkenalan dengan penghitungan dan pengukuran arah kiblat, kiranya perlu bagi kita untuk sedikit memahami tentang system tata koordinat yang berlaku di pemukaan bumi ini. Bumi yang kita tempati ini berbentuk bu… Read More
  • MENGHITUNG DAN MENGUKUR ARAH KIBLAT A.    Dasar Hukum Jumhur ulama’ berpendapat bahwa menghadap kiblat merupakan salah satu syarat syahnya shalat. Hal ini didasarkan atas firman Allah s.w.t. : Artinya : Maka palingkanlah mukamu ke arah masjid… Read More
  • Pengaruh Perbedaan Bujur dan Lintang Tempat 1.      Pengaruh Lintang Tempat Lintang tempat adalah besarnya simpangan suatu tempat dari garis katulistiwa kearah utara atau selatan. Bila tempat tersebut berada di sebelah utara garis katulist… Read More
  • Peluang Kerja Profesi atau posisi keahliah yang dapat diisi oleh Alumni / Output dari Ma’had Aly “Al Mahfudz” Seblak Jombang konsentrasi Ilmu Falak antara lain : Tenaga Hisab dan Rukyat Departemen Agama (PNS) tingkat Kabupaten hingga P… Read More

0 comments:

Post a Comment

Kritik dan saran untuk kebaikan dan penyempurnaan